SIKAP TERHADAP PERILAKU SEKS MAYA BERDASARKAN
JENIS KELAMIN PADA DEWASA AWAL

Ida Ayu Putu Sri Andini
Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma
Jl. Margonda Raya No. 100 Depok 16424, Jawa Barat
dayu_sarasvaty@yahoo.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk perbedaan sikap terhadap seks maya berdasarkan jenis kelamin pada umur dewasa awal. Penelitian dilakukan terhadap 100 mahasiswa di Universitas Gunadarma. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan Uji t. Analisis data menghasilkan nilai t sebesar 8.296 (p < 0.01). Nilai tersebut menunjukan adanya perbedaan sikap terhadap seks maya berdasarkan jenis kelamin pada dewasa awal. Rata-rata empirik yang diperoleh lebih rendah dari pada rata-rata hipotetiknya. Ini berarti baik pria maupun wanita memiliki sikap yang negatif terhadap seks maya. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, keinginan sosial, lembaga pendidikan dan keagamaan.
Kata Kunci: sikap terhadap seks maya, jenis kelamin, dewasa awal

THE ATTITUDE OF CYBERSEX
BASED ON GENDER ON YOUNG ADULT

Abstract
The aim of this research is to measure the attitude difference on cybersex based on gender on young adult. The participants of the research are 100 Gunadarma University college students. This research is using questionairre for the data collecting. This research is using t test for the data analysis with t score around 8.296 (p < 0.01). This result shows the attitude difference on cybersex based on gender on young adult. The empiric mean shows the lower score from the hipotetic score. It shows that women and men are having attitude of cybersex negatively. It can be happened because factors such as culture, social intention, educational institution and religion. Key Words: attitude of cybersex, gender, young adult

PENDAHULUAN

Perkembangan teknologi kompu-ter telah memberikan banyak kemudahan di dalam berbagai bidang kehidupan manusia. Salah satu bentuk dari kecang-gihan teknologi komputer pada bidang komunikasi adalah internet. Melalui inter-net, pengguna jasa internet dapat dengan mudah memperoleh informasi seperti layanan menjelajah, surat elektronik, ruang mengobrol, iklan dan berbagai situs menarik lainya. Layanan internet sangat menarik minat masyarakat luas terutama di kota besar karena banyak menyediakan ber-bagai informasi baik di bidang pen-didikan maupun di dunia kerja, internet sudah menjadi bagian yang tak ter-pisahkan dari evolusi sosialisasi manusia. Fasilitas internet ini bersaing secara ketat untuk memberikan atau menampilkan hal-hal atau info semenarik mungkin. Salah satu fasilitas yang paling fenomenal saat ini adalah seks maya yakni sebuah layanan yang memberikan beragam infor-masi seksual. Seks maya hadir dalam berbagai bentuk seperti situs-situs porno, ruang mengobrol yang memuat obrolan erotis, kamera situs sebagai layanan interaktif seksual dan sebagainya. Menurut Goldberg dkk (2008), seks menjadi bagian yang penting dan selalu diadopsi oleh teknologi baru. Kehadiran internet seks adalah sebagai media eksploitasi erotika dan pornografi. Inter-net juga menyediakan program seksual yang bervariasi mulai dari layanan yang pasif seperti gambar porno sampai pada yang paling aktif, yaitu partisipasi lang-sung lewat interaktif video dan meng-obrol seksual di dalam ruang mengobrol online. Secara jelas dapat dilihat bahwa internet memang dapat digunakan untuk mengungkapkan ekspresi seksual secara sehat selain itu internet juga memberikan kesempatan atau kemudahan bagi komu-nitas tertentu yang terisolasi seperti kaum gay dan lesbian. Melalui media ini mere-ka dapat saling berkomunikasi (mem-bahas kehidupan seksual mereka), ber-bagi pengalaman atau juga dapat meng-ungkap ketertarikan satu sama lainnya (Cooper, 2000). Menurut Surono (2001) fasilitas internet ini sangat diminati oleh sebagian besar kalangan pria dan wanita dewasa awal. Mereka memanfaatkan berbagai layanan internet mulai dari menjelajah informasi ilmu pengetahuan, layanan info sekolah di luar negeri, surat elek-tronik dan mengobrol. Sekarang ini mengobrol menjadi salah satu kegemaran para dewasa awal karena mereka dapat berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai negara. Mengobrol memberikan keleluasaan di dalam berkomunikasi karena identitas mereka umumnya dapat dirahasiakan (hanya mengunakan inisial), sehingga mereka dapat bebas mengung-kapkan apa saja yang mereka inginkan. Akhir-akhir ini, “ruang mengobrol” yang banyak diminati oleh sebagian kalangan dewasa awal adalah “seks maya” yang melibatkan fantasi seks mereka melalui cerita erotis bahkan tak jarang dari mereka dapat merasakan orgasme, baik itu hanya dengan berfantasi melalui alam pikiran atau bisa juga diimbangi dengan melakukan onani atau masturbasi. Dalam hal ini seks maya menyediakan berbagai macam gambar porno, layanan interaktif secara langsung (melalui ruang meng-obrol), surat elektronik, dan kamera situs. Fasilitas ini disediakan guna memper-mudah pengguna dalam berinteraksi atau berkomunikasi. Secara umum perbedan sikap pria dan wanita terhadap seks maya di-pengaruhi oleh faktor biologis dan psi-kologis. Bila dilihat dari faktor biologis perubahan hormonal pada pria yakni dengan meningkatnya hormon testosteron dapat membangkitkan minat yang tinggi terhadap hal-hal yang berkaitan dengan seksual. Berbeda dengan wanita, bila hormon estrogen meningkat hal tersebut tidak memberikan dampak yang berarti. Selain itu secara psikis pria umumnya lebih agresif, sangat aktif, sangat berterus terang dan tidak malu untuk membica-rakan masalah seks. Berbeda halnya dengan wanita yakni tidak agresif, pasif, merasa tidak bebas untuk membicarakan masalah seks. Berdasarkan hal-hal terse-but maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji perbedaan sikap terhadap seks maya berdasarkan jenis kelamin pada dewasa awal.

METODE PENELITIAN

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah sikap terhadap seks maya dan variabel bebasnya adalah jenis kelamin. Sikap terhadap seks maya adalah evaluasi terhadap media layanan internet yang berisi material seksual sebagai suatu sarana eksperimen dan eksplorasi hasrat seksual serta aktifitas seksual berupa eks-presi perasaan yang mendukung maupun tidak mendukung, senang maupun tidak senang, positif atau negatif, setuju maupun tidak setuju terhadap layanan tersebut. Untuk mengukur sikap terhadap seks maya maka digunakan skala Likert yang akan diukur melalui komponen sikap yang dikemukakan oleh Mann dalam Riyanti dan Prabowo (1998) yaitu komponen kognitif, afektif, dan konatif. Jenis kelamin adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi-kan perbedaan pria dan wanita yang dilihat dari sudut anatomi atau biologis. Hal tersebut akan diungkap melalui lembar identitas subjek pada pengisian kuesioner. Penyebaran kuesioner dilaku-kan dengan terlebih dahulu menunjukkan komponen seks maya seperti gambar porno, teks erotik, mengobrol panas, dan kamera video atau kamera situs. kepada responden

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada skala sikap terhadap seks maya terdiri dari 60 item yang diujico-bakan dan terdapat 8 item dinyatakan gugur. Dasar pengukuran item valid jika taraf signifikansi 0.3. Item yang valid berjumlah 52 item dan memiliki koefisien validitas bergerak antara 0.3484 sampai dengan 0.8323. Uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan teknik Alpha cronbach dan diperoleh koefisien reliabi-litas sebesar 0.9626. Kuesioner yang sudah valid dan reliabel disebarkan ke sejumlah 100 orang responden, yang terdiri dari 50 orang pria dan 50 orang wanita. Data yang terkumpul terlebih dahulu diuji normalitasnya. Hasil uji normalitas me-nunjukkan bahwa data penelitian yang dikumpulkan menyebar secara normal. Dari hasil pengujian homogenitas diper-oleh nilai signifikansi sebesar 0.435 (p > 0.05). Hasil pengujian ini menunjukan bahwa keduanya mempunyai varians yang sama (homogen).
Sementara itu, hasil analisis data menunjukkan bahwa nilai t yang diperoleh sebesar 8.296 dan signifikansi sebesar 0.000 (p < 0.01). Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan adanya per-bedaan sikap terhadap seks maya ber-dasarkan jenis kelamin pada dewasa awal dapat diterima.
Velea dalam Surono (2001) men-jelaskan alasan mengapa pria menyukai seks maya. Alasannya adalah pria ber-usaha mencari perlindungan dengan membebaskan diri dari kenyataan. Pada intinya persoalan komunikasi biasanya menjadi penyebab seseorang lari ke da-am dunia seks maya dan umumnya menyerang pria. Dalam hal ini pria memang memiliki kekurangan dalam komunikasi verbal untuk mengemukakan perasaan mereka. Perbedaan mencolok lainnya adalah pria lebih terangsang oleh stimulus visual atau pengamatan, sedang-kan wanita lebih kepada stimulus pendengaran.
Menurut Surono (2001) fasilitas internet yang berbau seksualitas sangat diminati oleh sebagian besar kalangan pria dan wanita dewasa awal. Mereka memanfaatkan berbagai layanan internet mulai dari menjelajah informasi ilmu pengetahuan, layanan info sekolah di luar negeri, surat elektronik dan meng-obrol. Sekarang ini mengobrol menjadi salah satu kegemaran para dewasa awal karena mereka dapat berkomunikasi dengan banyak orang dari berbagai negara. Mengobrol memberikan kele-luasaan di dalam berkomunikasi karena identitas mereka umumnya dapat diraha-siakan (hanya mengunakan inisial), se-hingga mereka dapat bebas mengungkap-kan apa saja yang mereka inginkan. Akhir-akhir ini, “ruang mengobrol” yang banyak diminati oleh sebagian kalangan dewasa awal adalah “seks maya” yang melibatkan fantasi seks mereka melalui cerita erotis bahkan tak jarang dari mereka dapat merasakan orgasme, baik itu hanya dengan berfantasi melalui alam pikiran atau bisa juga diimbangi dengan melakukan onani atau masturbasi. Dalam hal ini seks maya menyediakan berbagai macam gambar porno, layanan interaktif secara langsung (melalui ruang meng-obrol), surat elektronik, dan kamera si-tus. Fasilitas ini disediakan guna mem-permudah pengguna dalam berinteraksi atau berkomunikasi.
Menurut Cooper dan Scherer dalam Cooper (2000) jenis kelamin tertentu sangat menentukan pemilihan media yang digunakan di dalam internet. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan secara biologis dan psikologis antara pria dan wanita. Bila dilihat dari faktor biologis perubahan hormonal pada pria yakni dengan meningkatnya hormon testosteron dapat membangkitkan minat yang tinggi terhadap hal yang berkaitan dengan seksual. Berbeda dengan wanita, bila hormon estrogen meningkat hal tersebut tidak memberikan dampak yang berarti Selain itu secara psikis pria umumnya lebih agresif, sangat aktif, sangat berterus terang dan tidak malu untuk membicara-kan masalah seks. Berbeda halnya dengan wanita yakni tidak agresif, pasif, merasa tidak bebas untuk membicarakan masalah seks (Dagun, 1992).
Wanita umumnya lebih suka dirayu daripada diperlihatkan gambar pria telanjang. Di internet lebih sering ditemui gambar erotis atau porno dari pada tulisan jorok. Hal ini diperkuat oleh pernyataan yang dikemukakan Cooper, Scherer dan Carnes dalam Cooper (2000) yang me-ngatakan bahwa wanita pada umumnya tidak tertarik untuk melihat citra erotis atau gambar porno dan teks erotik.
Hanya saja, hasil penelitian mem-perlihatkan bahwa rata-rata empirik skala sikap terhadap seks maya pada pria sebesar 124.36, sedangkan rata-rata em-pirik pada wanita sebesar 94.10. Ber-dasarkan hasil perhitungan rata-rata hipotetik dan rata-rata empirik skala sikap terhadap seks maya, diketahui bahwa rata-rata empirik yang diperoleh lebih rendah dari pada rata-rata hipotetiknya. Perbedaan ini menunjukkan bahwa baik pria maupun wanita memiliki sikap yang negatif terhadap seks maya. Hal ini tentu agak berbeda dengan teori di atas. Hal bisa terjadi karena pengaruh faktor bu-daya di Indonesia yang masih memegang teguh adat dan istiadat budaya timur, di mana manusia harus memperhatikan aturan dan nilai budaya di dalam bersikap dan berperilaku. Menurut Azwar dalam Riyanti dan Prabowo (1998) kebudayaan yang berkembang di mana seseorang hidup dan dibesarkan mempunyai pe-ngaruh besar terhadap pembentukan si-kap, tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan pengaruh yang kuat dalam sikap seseorang terhadap berbagai ma-cam hal.
Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata sikap pria dan wanita dari Tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa baik pria maupun wanita memiliki sikap yang negatif terhadap ke empat komponen seks maya. Hal tersebut sangat mungkin dipengaruhi oleh keinginan sosial, yaitu berisi hal-hal yang akan disetujui oleh responden semata-mata karena isinya menggambarkan sesuatu yang dianggap sudah semestinya berlaku dalam masya-rakat sosial atau sesuatu yang baik, benar dan diterima menurut norma masyarakat (Prabowo dan Fakhrurrozi, 2004).

Selain hal-hal yang sudah dijelaskan di atas, keagamaan juga memegang peranan yang penting di dalam menen-tukan sikap terhadap seks maya. Agama biasanya sudah dipelajari secara teoritis melalui lembaga pendidikan pada usia sekolah dasar. Menurut Azwar dalam Riyanti dan Prabowo (1998) lembaga pendidikan maupun agama, sebagai suatu sistem yang memiliki pengaruh dalam pembentukan sikap seseorang. Hal ini disebabkan karena keduanya meletakan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu yang pada hakikatnya amat menentukan sistem kepercayaan sehingga konsep tersebut akan ikut berperan dalam menentukan sikap seseorang terhadap suatu hal. Hal ini penting untuk diper-hatikan mengingat cukup banyak efek negatif seks maya yang berdampak pada kehidupan sosial remaja dan dewasa awal (Delmonico dan Griffin, 2008).
SIMPULAN

Beberapa simpulan yang didapat dari penelitian ini antara lain adalah bahwa ternyata pria tidak selalu memiliki sikap yang positif terhadap seks maya. Hal menarik ini bisa terjadi dengan mempertimbangkan beberapa faktor yang memengaruhi seperti budaya Timur dan religiusitas. Namun demikian, tetap saja tampak bahwa pria memiliki sikap yang lebih positif terhadap seks maya diban-dingkan wanita. Hal ini dapat terjadi dikarenakan faktor biologis pada pria yang dipengaruhi oleh hormon testos-teron.
Beberapa saran yang bisa dibe-rikan berdasarkan hasil penelitian antara lain adalah bahwa masyarakat mampu mengambil segi positif dari layanan seks maya, hal tersebut dikarenakan layanan seks maya dapat dijadikan sebagai alter-natif sarana pendidikan, informasi dan diskusi masalah-masalah seksual. Hal lain yang juga dapat dipertimbangkan adalah bahwa peneliti selanjutnya mampu meng-ikutsertakan dan memperhatikan faktor-faktor lain yang memengaruhi pemben-tukan sikap, sehingga dapat diperoleh hasil penelitian yang lebih komprehensif.
DAFTAR PUSTAKA

Cooper, A. 2000 “The dark side of the force: A special issue of sexuality The Jurnal Sexual Addiction and Compulsivity vol 32 pp 113-121.
Dagun, S.M. 1992 Feminin dan Maskulin: Perbedaan Antar Pria dan Wanita dalam fisiologi Rineka Cipta Jakarta.
Delmonico, D.L., and Griffin, E.J. “Cybersex and e-teen: What marriage and family therapist should do” Journal of Marital and Family Therapy vol 34 pp 431-444.
Goldberg, P.D., Peterson, B.D., Rosen, K.H., and Sara, M.L. 2008 “Cybersex: The impact of a contemporary problem on the practices of marriage and family therapist” Journal of Marital and Family Therapy vol 34 pp 469-480.
Prabowo, H. dan Fakhrurrozi, M. 2004 Skala psikologi Universitas Gunadarma Depok.
Riyanti, B.P.D., dan Prabowo, H. 1998 Psikologi umum 2 Universitas Gunadarma Jakarta.
Surono, A. 2001 Majalah Intisari: Kumpulan artikel psikologi I: Kecanduan seks maya renggangkan kontak seksual PT Intisari Mediatama Jakarta.

http://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/psiko/article/viewFile/267/207

M. Harun Al-Rasyid
14510154
2PA01

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: