Logoterapi

M.Harun Al-Rosyid
14510154/ 3PA01

ANALISIS LOGOTERAPI
Secara literal, logoterapy mempunyai arti terapi melalui pemaknaan. Merupakan suatu terapi yang bersifat direktif dan terus menerus yang bertujuan untuk memberikan bantuan kepada masyarakat secara spesifik pada situasi yang amat penting, dapat juga dilakukan oleh mereka sendiri secara mendalam atau secara tidak langsung dimana sasarannya yakni para pecandu obat bius, para pemabuk atau penderita depresi. Logoterapi juga menggunakan teknik tertentu untuk mengatasi phobia (rasa takut yang berlebihan), kegelisahan, obsesi tak terkendali dari pemakai obat-obatan terlarang. Selain itu juga termasuk untuk mengatasi kenakalan remaja, konsultasi terhadap masalah memilih pekerjaan dan membantu semua masalah dalam kehidupan.
Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning) merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the meaningful life) yang didambakannya.
BIOGRAFI TOKOH
Viktor E. Frankl dilahirkan di Wina, Austria pada tanggal 26 Maret 1905. Frankl menikah pada 1942 dengan istri pertamanya, Tilly Grosser . Pada bulan September tahun 1942 Frankl, istrinya , ayah, ibu, dan saudaranya, semua ditangkap dan dibawa ke kamp konsentrasi di Theresienstadt di Bohemia. Ayah meninggal di sana karena kelaparan, ibu dan saudara tewas di Auschwitz tahun 1944. Istri meninggal di Bergen-Belsen tahun 1945. Pada bulan April 1945, Frankl dibebaskan setelah tiga tahun mendekam di kamp konsentrasi, dan ia kembali ke Wina. Pada 1945 ia menulis bukunya yang terknal di seluruh dunia yang berjudul “Ein Psychologe erlebt das Konzentrationslager” (terjemahan harafiahnya: “Seorang Psikolog Mengalami Kamp Konsentrasi”; Terjemahan bahasa Inggrisnya: Man’s Search for Meaning atau, “Manusia mencari Makna”). Pada 1946 ia ditunjuk untuk mengelola Poliklinik neurology Wina, dan ia bekerja di situ hingga 1971. Frankl menerbitkan lebih dari 30 buah buku dan menjadi terkenal terutama sebagai pendiri logoterapi.
Tujuan Terapi
Jika dikaitankan dengan konseling maka Konseling logoterapi suatupendekatan yang digunakan untuk membantu individu mengatasi masalah ketidakjelasan makna dan tujuan hidup, yang sering menimbulkan kehampaan dan hilangnya gairah hidup. Konseling logoterapi berorientasi pada masa depan (future oriented) dan berorientasi pada makna hidup (meaning oriented). Relasi yang dibangun antara konselor dengan konseli adalah encounter, yaitu hubungan antar pribadi yang ditandai oleh keakraban dan keterbukaan, serta sikap dan kesediaan untuk saling menghargai, memahami dan menerima sepenuhnya satu sama lain.
a. memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
b. menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan;
c. memanfaatkan daya-daya tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mamp[u tegak kokoh menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang lebih bermakna.
Peranan dan fungsi terapi
Asas-asas utama logoterapi yang menjadi inti dari terapi ini, yaitu:
1. Hidup itu memiliki makna (arti) dalam setiap situasi, bahkan dalam penderitaan dan kepedihan sekalipun. Makna adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi seseorang dan layak dijadikan tujuan hidup.
2. Setiap manusia memiliki kebebasan – yang hampir tidak terbatas – untuk menentukan sendiri makna hidupnya. Dari sini kita dapat memilih makna atas setiap peristiwa yang terjadi dalam diri kita, apakah itu makna positif atupun makna yang negatif. Makna positif ini lah yang dimaksud dengan hidup bermakna.
3. Setiap manusia memiliki kemampuan untuk mangambil sikap terhadap peristiwa tragis yang tidak dapat dielakkan lagi yang menimpa dirinya sendiri dan lingkungan sekitar. Contoh yang jelas adalah seperti kisah Imam Ali diatas, ia jelas-jelas mendapatkan musibah yang tragis, tapi ia mampu memaknai apa yang terjadi secara positif sehingga walaupun dalam keadaan yang seperti itu Imam tetap bahagia.Hubungan antara terapi dan klien
Pola hubungan pada konseling ini berbeda denagn sebagian besar bentuk terapi yang lain. ide dasar pengembangan hubungan adalah menolong klien dalam hal menghindari sifat mengutuk diri sendiri. Disini terapis harus menunjukkan sifat penerimaan mereka secara penuh, tidak ada hubungan yang membertikan arti utama paad kehangatan pribadi dan pengertian empatik, dengan asumsi empatik bisa menjadi kontra produktif karena bisa memupuk rasa ketergantungan. Tetpi terapis menekankan hubungan saling mengerti dan membangun kerjasama dan terapis biasanya sanagt terbuka dan langsung dalam mengungkapkan keyakinan dan nilai mereka sendiri (Corey, 1995: 475- 476).
Tehnik dan Proses Terapi
a. Intensi Paradoksikal
Para ahli terapi menganjurkan pasien untuk; mengarahkan keinginan, bahkan mengatasi apa yang menjadi ketakutan/kekhawatiran mereka.
1) Digunakan untuk yang terobsesi, keadaan terjerumus, dan phobia (tidak untuk pasien skizoprenia)
2) Kasusnya berguna untuk mengurangi kegelisahan, seringkali bekerja dengan tergesa-gesa.
3) Kapasitas manusia untuk bergerak for self-detacement, seringkali dilakukan dengan rasa humor.
4) Hans Gerz” mengatakan bahwa kesuksesan dari Intensi paradoksikal mencapai keberhasilan antar 80-90% dari kasus.
b. Derefleksi
Ahli terapi mengalihkan dan menjauhkan pasien dari masalah-masalah mereka dengan cara memberikan sesuatu yang bermakna dalam kehidupan.
1) Gunakan secara spesifik disfungsi seksual. Derefleksi terindikasi karena kamu berpikir lebih tentang potensi sek, yang jarang kamu mencapainya.
2) Jangan hanya mengandalkan cerita mereka untuk berhenti berpikir tentang suatu kebutuhan untuk meniru sesuatu yang positif (contoh; insomnia, jangan hanya menyuruh mereka berhenti mencoba untuk tidur, mengatakan kepada mereka untuk menghitung biri-biri)
3) Secara umum, Logoterapi dapat dilihat sebagai refleksi kembali kondisi pasien dari masalah yang ada dalam mencari makna hidup. Pasien ditinjau kembali tentang gangguan mereka sebagai sesuatu yang lain melebihi dari diri mereka sendiri.

c. Pemaknaan Terhadap Orientasi
Para ahli terapi mencoba untuk memaknai ketajaman dan sensitivitas pasien terhadap masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang, dan secara kreatif penuh dengan pendirian dan pengalaman.
1) Pemaknaan terhadap nilai-nilai kreatif
Frankl mengatakan bahwa aturan-aturan logotherapi meliputi perluasan dan pengembangan sisi nyata dari pasien karena keseluruhan itu memiliki nilai-nilai yang dapat dilihat dan dirasakannya. Sumber utama dari makna dapat dirasakan melalui penghargaan yang kita berikan, penrimaan dan perlakuan.
2) Pemaknaan Melalui Nilai-nilai Pengalaman
Frankl (sebagai seorang dokter jiwa) dalam tulisannya “mari kita segera menjadi seorang pendaki gunung yang dapat menyaksikan sunset (terbitnya matahari) di Alpin dan juga berpergian sambil menikmati keindahan alam, bahwa dia meresakan makin kesepian dan tidak suka dengan masa lalu dan membiarkannya setelah pengalaman hidup muncul lagi tetapi semua tidak berarti.
3) Pemaknaan nilai-nilai pengahayatan sikap
Frankl yakin bahwa kita selalu punya kebebasan untuk mencari pemaknaan melalui penghayatan sikap bahkan dalam situasi yang tidak mendukung sekalipun.
Tahapan Konseling Logoterapi
Ada empat tahap utama didalam proses konseling logterapi diantaranya adalah:
1. Tahap perkenalan dan pembinaan rapport. Pada tahap ini diawali dengan menciptakan suasana nyaman untuk konsultasi dengan pembina rapport yang makin lama makin membuka peluang untuk sebuah encounter. Inti sebuah encounter adalah penghargaan kepada sesama manusia, ketulusan hati, dan pelayanan. Percakapan dalam tahap ini tak jarang memberikan efek terapi bagi konseli.
2. Tahap pengungkapan dan penjajagan masalah. Pada tahap ini konselor mulai membuka dialog mengenai masalah yang dihadapi konseli. Berbeda dengan konseling lain yang cenderung membeiarkan konseli “sepuasnya” mengungkapkan masalahnya, dalam logoterapi konseli sejak awal diarahkan untuk menghadapi masalah itu sebagai kenyataan.
3. Pada tahap pembahasan bersama, konselor dan konseli bersama-sama membahas dan menyamakan persepsi atas masalah yang dihadapi. Tujuannya untuk menemukan arti hidup sekalipun dalam penderitaan.
4. Tahap evaluasi dan penyimpulan mencoba memberi interpretasi atas informasi yang diperoleh sebagai bahan untuk tahap selanjutnya, yaitu perubahan sikap dan perilaku konseli. Pada tahap-tahap ini tercakup modifikasi sikap, orientasi terhadap makna hidup, penemuan dan pemenuhan makna, dan pengurangan symptom.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: