SIP

STUDI VALIDITAS KONSTRUK GENERAL APTITUDE TEST BATTERY (GATB) DENGAN METODE CFA

ABSTRAK
Tes psikologi diperlukan dalam pengambilan keputusan berkaitan dengan sumber daya manusia dalam bidang industri dan organisasi. Pengambilan keputusan tersebut berkaitan dengan penerimaan dan penempatan, promosi, evaluasi, maupun penepatan karier. Kebutuhan akan alat tes untuk asesmen mendorong banyak dikembangkan berbagai alat ukur tes psikologis baik tes, self-report, skala, maupun inventori. Salah satu alat tes tersebut adalah General Apitude Test Battery (GATB). GATB adalah suatu alat tes yang berhubungan dengan jabatan yang berorientasi pada beberapa tes bakat baterai yang mengukur sembilan bakat dalam delapan tes tulis serta empat perangkat tes. Dalam penelitian ini digunakan empat subtes dari GATB yaitu computation, three dimensional space, vocabulary, dan arithmetic reasoning dengan jumlah total 175 item. keempat subtes tersebut digunakan karena mengukur bakat skolastik atau hanya dari keempat subtes tersebut telah dapat mengukur kemampuan kognitif atau inteligensi (general intelligence) atau dapat menghasilkan skor IQ.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah seluruh item dalam keempat subtes GATB yang dijadikan penelitian adalah fit (sesuai) dengan model satu faktor, yang berarti semua item pada suatu subtes mengukur hanya satu kemampuan yang didefinisikan pada subtes tersebut. Dan apakah setiap item dalam masing-masing subtes adalah secara signifikan mengukur kemampuan pada subtes tersebut. Tujuan yang kedua adalah untuk mengetahui apakah empat subtes dalam GATB fit (sesuai) dengan model satu faktor, yaitu satu faktor umum “inteligensi”.

Penelitian ini menggunakan data sekunder yang merupakan hasil tes GATB yang diperoleh dari Divisi Asesmen SDM PPM Manajemen. Data yang digunakan merupakan hasil dari rekruitmen karyawan PT Semen Tonasa yang menjalani tes di Jakarta. Pelaksaan tes dilakukan pada tahun 2009 dan ditempuh oleh 3257 orang. Metode analisis faktor yang digunakan dalam penelitian ini adalah Confirmatory Factor Analysis (CFA) dengan program lisrel 8.70.

Berdasarkan perhitungan dengan metode CFA dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian hipotesis 1 menunjukkan bahwa hipotesis diterima, bahwa semua subtes fit (sesuai) mengukur model satu faktor, namun untuk subtes three dimensional space serta artihmetic reasoning diperlukan modifikasi model pengukuran untuk dapat memperoleh nilai fit. Hasil pengujian hipotesis 2 melalui analisis faktor dua tingkat (second order confirmatory factor analysis) menghasilkan bahwa terdapat tiga dari empat subtes GATB yang signifikan dalam mengukur inteligensi umum, yaitu subtes computation, three dimensional space, dan vocabulary.

Dengan hasil seperti ini, maka alat tes GATB masih dapat dan layak digunakan sebagai salah satu alat tes inteligensi namun perlu dilakukan perbaikan dan pembaharuan terhadap item-item yang memiliki multidimensionalitas yang terlalu banyak.

Latar Belakang
Tes bakat atau aptitude test adalah tugas-tugas baku yang dirancang untuk mengungkapkan kemampuan atau keberhasilan seseorang dalam melaksanakan suatu pekerjaan di masa mendatang. Tes bakat dapat meramalkan bakat-bakat seseorang dalam berbagai bidang atau dalam hal pekerjaan yang dipilihnya serta kesuksesan-kesuksesan bekerja di masa datang.

Salah satu alat tes yang biasa dipakai tersebut adalah General Apitude Test Battery (GATB). GATB adalah suatu alat tes yang berhubungan dengan jabatan yang berorientasi pada beberapa tes bakat baterai yang mengukur sembilan bakat dalam delapan tes tulis serta empat perangkat tes yaitu name comparison, computation, three dimensional space, vocabulary, tool matching, arithmetic reason, form matching, mark making, place, turn, dan disassemble.

Penelitian ini menggunakan empat subtes dari GATB yaitu computation, three dimensional space, vocabulary, dan arithmetic reasoning dengan jumlah total 175 item. Keempat subtes tersebut digunakan karena subtes ini merupakan tes bakat dalam penilaian skolastik. Tes bakat skolastik adalah sebuah tes yang bertujuan untuk mengetahui bakat dan kemampuan seseorang di bidang keilmuan. Tes ini juga dapat mencerminkan tingkat kecerdasan intelektual (IQ) seseorang.

Dalam penelitian ini GATB digunakan karena tes tersebut mengukur kemampuan-kemampuan umum pada individu dan dapat dipakai untuk semua kalangan.

Keuntungan dari penggunaan alat tes GATB sebagai salah satu tes untuk mengukur inteligensi adalah pengadministrasian tes lebih mudah, waktu pengerjaan tes yang relatif singkat dapat menghemat waktu dalam pengerjaan. Namun, alat tes GATB ini telah lama digunakan karena termasuk salah satu alat tes yang tertua.

Belum adanya pengujian validitas pada item subtes GATB yang menyebabkan item subtes GATB belum memuaskan. Oleh karena itu, peneliti akan meneliti dengan teori modern dalam rangka menguji validitas konstruk dari GATB. Dikarenakan peneliti belum mempelajari secara khusus statistik tentang analisis faktor, maka peneliti hanya akan mempraktekkannya saja dengan software yang sudah ada, yaitu Lisrel kemudian menafsirkan hasil analisis faktor terhadap data hasil tes.

Perumusan Masalah
1. Apakah benar seluruh item dalam empat subtes GATB yang dijadikan penelitian mengukur konstruk yang dimaksud. Apakah setiap item dalam masing-masing subtes secara signifikan mengukur kemampuan pada subtes tersebut?

2. Apakah empat subtes dalam GATB fit (sesuai) dengan model satu faktor, yaitu semua subtes mengukur satu faktor umum yang dalam hal ini adalah “Inteligensi”?

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui validitas konstruk GATB.

Manfaat Penelitian
1. Secara teoritik, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan psikologi, khususnya psikologi industry dan organisasi dan memberikan gambaran mengenai bagaimana menggunakan software Lisrel untuk menguji validitas konstruk dari sebuah alat ukur psikologi.

2. Secara praktis, hasil penelitian ini bermanfaat bagi pengguna tes GATB, sehingga alat tes tersebut dapat disempurnakan dan digunakan pada pengetesan calon pegawai berikutnya di lembaga psikologi yang menggunakan GATB sebagai salah satu alat tes dengan tingkat validitas yang lebih tinggi.

Bahasan Umum Mengenai Tes Psikologi

Anne Anastasi (1997) menjelaskan bahwa tes psikologi merupakan alat ukur yang terstandar dan objektif tentang sampel perilaku individu.

Dalam psikologi, tes dapat diklasifikasikan menjadi lima, yaitu: Pertama, tes yang mengukur inteligensi umum (general intelligence test). Kedua, tes yang mengukur kemampuan khusus atau tes bakat (special ability test). Ketiga, tes yang mengukur prestasi (achievement test). Keempat, tes yang mengungkap aspek kepribadian (personality assesment). Kelima, tes yang menilai kreativitas dari seseorang (creativity test).

Definisi Bakat
Bakat menurut definisi Bingham (dalam Saparinah Sadli, 1991) adalah suatu kondisi atau seperangkat karakteristik yang dianggap sebagai kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan melalui suatu latihan khusus guna mencapai suatu keterampilan, kemampuan berbahasa, bermusik dan lain sebagainya.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bakat
Bakat berkembang sebagai hasil interaksi dari faktor yang bersumber dari dalam diri individu dan dari lingkungannya. Apabila kedua faktor tersebut bersifat saling mendukung maka bakat yang ada akan dapat berkembang secara optimal. Manakah di antara kedua faktor tersebut yang paling besar pengaruhnya, ini sangat sulit sekali untuk menentukannya dengan tepat (Rahman,2004).

Tes Bakat

Tahun 1920-1930, tes yang digunakan adalah tes inteligensi umum, karena tes inteligensi pada saat itu dianggap sebagai satu-satunya tes yang mutlak dapat mementukan kemampuan seseorang. Namun, tes inteligensi yang hanya dapat memberikan gambaran kemampuan umum dan tidak dapat memberikan gambaran kemampuan umum dan profil kemampuan seseorang pada aspek tertentu dirasakan kurang. Diperlukan adanya tes lain yang dapat mengukur bermacam aspek secara khusus, ileh karena pada kenyataannya ada perbedaan profil kemampuan antara individu yang satu dengan individu lainnya. Maka diperlukan penciptaan tes bakat yang dapat mengukur kemampuan di dalam berbagai aspek sebagai pelengkap tes inteligensi.

Dasar dari tes bakat adalah membandingkan profil nilai seseorang dengan profil nilai orang lain yang dianggap berkemampuan tinggi mengenai bidang tertentu. Dengan cara menyimpulkan kekuatan atau kelemahannya, maka dapat terukur kadar bakat yang dimiliki oleh seseorang.

Secara garis besar tes bakat dapat dikelompokkan menjadi dua bagian besar (Anastasi, 1997), yaitu:
1. Multiple Aptitude Batteries yaitu tes bakat yang mengukur bermacammacam kemampuan, seperti. pengertian bahasa, kemampuan angka angka, penglihatan keruangan, penalaran dalam berhitung, kecepatan dan ketepatan dalam persepsi.
2. Special Aptitude Test atau Single Aptitude Test atau tes bakat khusus, yakni tes yang hanya mengukur satu bakat khusus tertentu.
Definisi Inteligensi
Menurut David Wechsler (dalam Jackson, 2003), Inteligensi adalah kapasitas keseluruhan atau global individu untuk bertindak, berpikir rasional, dan menangani lingkungan secara efektif.

Konstruksi Tes
Dua istilah yang paling sering diterapkan pada pengembangan tes psikologi adalah validitas (validity) dan keandalan (reliability).

Validitas
Validitas suatu tes menerangkan apa yang diukur oleh tes dan sejauh mana tes tersebut mengukur apa yang hendak diukur (Anastasi, 1997).

Dalam bidang psikologi konsep validitas memiliki tiga konteks yaitu
(Suryabratha, 2005):
1. Validitas Penelitian (Content Validity)
Konsep validitas penelitian ini bermakna adanya kesesuaian hasil-hasil simpulan sebuah penelitian dengan kondisi senyatanya dilapangan.
a) Validitas Internal
Konsep validitas internal membahas mengenai kesesuaian antara hasil penelitian dengan kondisi sebenarnya.

b) Validitas Eksternal
Konsep validitas eksternal membahas kesesuaian antara generalisasi hasil penelitian dengan keadaan yang sebenarnya.

2. Validitas Item (Item Validity)
Item merupakan bagian dari sebuah instrumen, sehingga dalam memaknai validitas item ini tidak terlalu menyamakannya dengan validitas seluruh item atau validitas instrumen.

3. Validitas Alat Ukur (Test Validity)
Konsep validitas alat ukur merujuk pada makna kemampuan sebuah alat ukur (instrumen/ skala/ tes) untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.
a) Validitas Isi (Content-Related Validation)
Validitas isi merupakan seperangkat item-item tes yang menunjukkan sejauhmana isi dari item-item tersebut memang mengukur apa yang hendak diukur.

b) Validitas Konstruk (Construct Corelated Validation)
Validitas konstruk mengukur mengenai sejauh mana skor-skor hasil pengukuran dengan instrumen itu sesuai atau tidak dengan teori yang mendasari penyusunan alat ukur tersebut.

Teknik-teknik yang dapat digunakan untuk mengukur validitas konstruk adalah sebagai berikut (Suryabratha, 2005):
1) Analisis faktor
Dasar pemikiran penerapan analisis faktor untuk validasi adalah bahwa walaupun perilaku manusia itu sangat banyak ragamnya, namun perilaku yang sangat beragam itu didasari oleh sejumlah faktor yang terbatas. Dengan analisis faktor dapat ditemukan faktor-faktor yang mendasari perilaku yang beragam tersebut. Tinggi-rendahnya validitas konstruk suatu alat tes tercermin pada sejauh mana muatan faktor yang diperoleh dari analisis faktor ini berkontribusi pada teori yang mendasarinya.

2) Korelasi dengan tes lain
Korelasi antara tes baru dengan tes lama yang serupa menunjukkan bahwa tes baru juga mengukur konstruk yang kurang lebih sama. Korelasi dengan tes lain dilakukan untuk menunjukkan bahwa tes baru bebas dari pengaruh faktor-faktor yang tidak relevan.

3) IRT (Item Responses Theory)
Analisis item-item secara modern yaitu penelaahan item dengan menggunakan Item Respons Theory (IRT) atau teori jawaban terhadap item. Teori ini merupakan suatu teori yang menggunakan fungsi matematika untuk menghubungkan antara peluang menjawab benar suatu skala dengan kemampuan testee (Umar, 2008).

c) Validitas Berdasarkan Kriteria (Criterion-Related Validation)
Prosedur validitas kriteria menunjukkan efektivitas dari suatu tes dalam meramalkan kinerja seseorang pada aktivitas tertentu. Kriteria pengukuran untuk validitas skor tes dapat diperoleh dalam waktu yang bersamaan dengan skor tes atau dalam interval waktu tertentu.

Penelitian ini menggunakan uji validitas konstruk dengan teknik analisis faktor. Dengan melakukan uji pengukuran melalui analisis faktor maka dapat ditemukan variabel yang diukur oleh item-item dan juga dapat dilihat bagaimana hubungan antar item, item dengan faktor, serta korelasi antar variabel.

Reliabilitas
Reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika mereka diuji-ulang dengan tes yang sama pada kesempatan berbeda atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda, atau dalam kondisi pengujian yang berbeda (Anastasi, 1997).

Berikut ini dikemukakan beberapa cara untuk menghitung reliabilitas yang dikemukakan oleh Anastasi (1997):
1. Metode Pengujian Kembali (Test-Retest Methods)
Pengukuran terhadap sekelompok subyek dilakukan dua kali dengan satu alat pengukur.

2. Reliabilitas Alat Ukur Alternatif (Alternate-Form Reliability)
Pendekatan tes dilakukan dengan jalan menggunakan dua macam alat pengukur dimana dua alat pengukur tersebut harus sama.

3. Metode Konsistensi Internal (Internal Consistency Methods)
Pengestimasian kadar reliabilitas dengan prosedur konsistensi internal dilakukan dengan memfokuskan diri pada unsur-unsur internal instrument, yaitu butir-butir pertanyaan atau item.

Gambaran Umum GATB
General Aptitude Test Batteray (GATB) diciptakan oleh Charles E. Odell dari United States Employes Services dan mulai dikembangkan pada tahun 1940.

Kemampuan yang diukur oleh General Aptitude Test Battery adalah sebagai berikut (Lynne Bezanson dalam Jigau, 2007):
a. Aptitude G (General Learning Ability)
Kemampuan untuk menangkap atau untuk memahami pelajaran dan prinsip-prinsip yang mendasari suatu hal.

b. Aptitude V (Verbal Aptitude)
Kemampuan untuk memahami arti kata-kata dan ide-ide, menghubungkannya dan menggunakannya dengan baik.

c. Aptitude N (Numerical Aptitude)
Kemampuan untuk mengoperasikan aritmatik seperti menjumlahkan, mengalikan, mengurangi, dan membagi dengan cepat dan tepat.

d. Aptitude S (Spatial Aptitude)
Kemampuan untuk menggambarkan secara visual bentuk-bentuk geometric dan memahami objek-objek dua dimensi serta menggambarkan objek-objek dalam tiga dimensi.

e. Aptitude P (Form Perception)
Kemampuan untuk melihat seluk beluk atau detail yang penting dalam objek-objek, gambar-gambar, atau grafik.

f. Aptitude Q (Clerical Perception)
Kemampuan untuk melihat seluk-beluk atau detail dari bahan-bahan tertulis atau yang disajikan dalam bentuk table-tabel.

g. Aptitude K (Motor Coordination)
Kemampuan untuk mengkoordinasikan mata dan tangan atau jari dengan cepat dan akurat dalam membuat gerakan yang tepat dengan kecepatan.

h. Aptitude F (Finger Dexterity)
Kemapuan untuk menggerakkan jari tangan dan menangani objek-objek yang kecil dengan cepat dan akurat

i. Aptitude M (Dexterity Manual)
Kemampuan untuk menggerakkan tangan dengan mudah dan terampil.

Dewasa ini GATB meliputi 12 tes; 4 tes membutuhkan alat sederhana, sementara 8 tes yang lainnya hanya menggunakan kertas dan pensil. Keseluruhan kumpulan tes dapat diselenggarakan dalam waktu kurang lebih 2,5 jam (Anastasi, 1997). Adapun subtes yang terdapat dalam GATB adalah sebagai berikut:
a. Bagian 1 – Membandingkan nama-nama (name comparison). 6 menit, skor maksimal 150.
Tes ini berisi dua kolom nama. Peserta tes memeriksa masing-masing kolom, dan menunjukkan apakah nama-nama yang ada sama atau berbeda. Subtest ini mengukur persepsi klerikal (clerical perception)

b. Bagian 2 – Perhitungan (computation). 6 menit, skor maksimal 50.
Tes ini berisi suatu latihan bilangan aritmatik yang membutuhkan penjumlahan, pengurangan, perkalian, atau pembagian seluruh bilangan. Subtes ini mengukur kemampuan numerik (numerical aptitude)

c. Bagian 3 – Tiga dimensi ruang (three dimensional space). 6 menit, skor maksimal 40.
Tes ini berisi empat rangkaian gambar dengan objek tiga dimensi.

d. Bagian 4 – Perbendaharaan kata (Vocabulary). 6 menit, skor maksimal
Tes ini berisi empat set kata-kata. Peserta tes menunjukkan dua katakata yang sama atau arti kata yang berlawanan.

e. Bagian 5 – Mencocokkan alat-alat (tool matching). 5 menit, skor maksimal 49.
Tes ini berisi serangkaian latihan yang mengandung suatu gambar perangsang dan empat gambar hitam-putih alat-alat perlengkapan bengkel yang sederhana.

f. Bagian 6 – Penalaran aritmatik (arithmetic reason). 7 menit, skor maksimal 25.
Tes ini berisi masalah angka aritmatik yang diekspresikan secara verbal.

g. Bagian 7 – Mencocokkan bentuk (form matching). 6 menit, skor maksimal 60.
Tes ini berisi dua kelompok dengan berbagai cara dibentuk gambar yang berpotongan.

h. Bagian 8 – Membuat tanda-tanda (mark making). 60 menit, skor maksimal 130.
Tes ini berisi suatu rangkaian hasil perkalian (kuadrat), dimana peserta tes membuat tiga tanda pensil, dikerjakan secepat-cepatnya.

i. Bagian 9 – Menempatkan (place). 3 percobaan, masing-masing waktu 15 menit, skor maksimal 144.
Peralatan yang digunakan untuk tes ini berisi 10 bagian papan pasak empat persegi panjang yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing berisi 48 lubang.

j. Bagian 10 – Memutar (turn). 3 percobaan, masing-masing 30 menit, skor maksimal 144.
Tes ini menggunakan perlatan. Peralatan yang digambarkan dalam bagian 9 juga digunakan dalam tes ini.

k. Bagian 11 – Memasang (assemble). 90 detik, skor maksimal 50.
Tes ini menggunakan peralatan. Peralatan yang digunakan untuk tes ini dan bagian 12 yang berisi papan persegi panjang kecil (papan kecekatan tangan) berisi 50 lubang, dan menyediakan paku penyumbat kecil dari metal dan cincin penutup (ring).

l. Bagian 12 – Membongkar (disassemble). 60 detik, skor maksimal 50.
Tes ini mempergunakan peralatan yang sama seperti digambarkan pada bagian 11. Peserta tes memindahkan paku sumbat kecil dari metal memasang suatu lubang dalam papan bagian bawah, mendorong ring pada dasar papan, meletakkan ring pada tangkai dengan satu tangan dan paku sumbat ke dalam lubang yang cocok pada papan bagian atas dengan tangan yang lainnya.

Hipotesis
Sesuai dengan kerangka berpikir yang telah digambarkan, maka dapat disusun hipotesis sebagai berikut:
1. Bahwa seluruh item dalam empat subtes GATB yang dijadikan penelitian mengukur konstruk yang dimaksud. Konstruk yang dimaksud adalah computation, three dimensional space, vocabulary, dan three dimensional space.

2. Bahwa empat subtes GATB adalah fit (sesuai) dengan model satu faktor, yaitu semua subtes mengukur satu faktor umum yang dalam hal ini adalah “inteligensi”

METODE PENELITIAN

Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti menggunakan data mentah yang tersedia di Divisi Asesmen SDM PPM Manajemen. Data yang digunakan merupakan hasil dari rekruitmen karyawan PT Semen Tonasa yang menjalani tes di Jakarta. Pelaksanaan tes dilakukan pada tahun 2009 dan ditempuh oleh 3257 orang. Karakteristik dari para peserta tes pada data yang tersedia ini adalah sebagai berikut: a. Umur 22-32 tahun b. Tingkat pendidikan minimal D3

Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini, GATB dijadikan short form dengan empat subtes yang memiliki jumlah item sebanyak 175, dikarenakan keempat subtes tersebut mengukur kognisi atau inteligensi dari seseorang dan dari hasil penilaian tes tersebut dapat menghasilkan skor IQ seseorang.

Metode Analisis Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis faktor. Pada dasarnya terdapat dua jenis pandangan mengenai analisis faktor, yaitu: Exploratory Factor Analysis (EFA) dan Confirmatory Factor Analysis (CFA).

Dalam EFA, peneliti tidak memiliki ekspektasi tertentu mengenai jumlah atau sifat faktor yang mendasari konstruk. Metode analisis faktor yang lebih modern adalah Confirmatory Factor Analysis (CFA). Dalam CFA, peneliti harus memiliki gambaran yang spesifik mengenai (a) jumlah faktor, (b) variabel yang mencerminkan suatu faktor, dan (c) faktor-faktor yang saling berkolerasi (Thompson, 2004).

Dalam rangka penelitian mengenai studi validitas konstruk General Aptitude Test Battery (GATB) maka penulis menggunakan metode analisis faktor Confirmatory Factor Analysis (CFA) dengan program lisrel 8.70. Alasan penulis menggunakan CFA sebagai metode dalam penelitian karena dengan menggunakan CFA maka setiap dimensi dapat diuji satu persatu. Validitas dari masing-masing item juga dapat diuji dan digambarkan dalam matriks korelasi CFA. Confirmatory Factor Analysis (CFA) adalah model teori-pengujian yang bertentangan dengan metode teori yang menghasilkan faktor seperti eksploratori. Dalam Confirmatory Factor Analysis (CFA), penelitian dimulai dengan membuat hipotesis sebelum analisis. Model, atau hipotesis dengan spesifik menentukan variabel mana yang akan berkolerasi dengan faktor dan faktor mana yang berkolerasi.

Tujuan dari CFA adalah (Umar, 2011) :
1. Untuk menguji hipotesis tentang satu atau lebih faktor serta saling keterkaitan antara faktor tersebut sesuai model teori yang ditetapkan.
2. Untuk menguji validitas dari setiap indikator yang digunakan untuk mengukur faktor atau konstruk tersebut.

Dalam konteks ini,
CFA digunakan untuk verifikasi jumlah dimensi yang mendasari instrument (faktor) dan pola hubungan item dengan faktor (factor loading). Hasil CFA dapat memberikan bukti kuat dari validitas convergent dan diskriminan dari sebuah konstruk teoritis.

Adapun logika
dasar dari CFA adalah sebagai berikut (Umar, 2011):
1. Sebuah konsep atau trait berupa kemampuan yang didefinisikan secara operasional sehingga dapat disusun pertanyaan atau pernyataan untuk mengukurnya.

2. Setiap item diteorikan hanya mengukur atau memberi informasi tentang satu faktor tertentu saja.

3. Berdasarkan teori yang dipaparkan di atas, dapat disusun sehimpunan persamaan matematis.

4. Pernyataan matematik inilah yang dijadikan hipotesis nihil yang akan dianalisis menggunakan CFA.

5. Jika teori diterima (model fit), langkah selanjutnya, adalah menguji hipotesis tentang signifikan tidaknya masing-masing item dalam mengukur apa yang hendak diukur (kemampuan berpikir analogis).

6. Persamaan matematis pada butir tiga di atas adalah persamaan regresi untuk setiap butir soal dalam hubungannya dengan faktor yang diukur yaitu

Adapun langkah-langkah yang dilakukan untuk mendapatkan kriteria hasil CFA yang baik adalah (Umar, 2011):
1. Dilakukan uji CFA dengan model satu faktor dan dilihat nilai Chi-Square yang dihasilkan. Jika nilai Chi-Square tidak signifikan (p >0.05) berarti semua item hanya mengukur satu faktor saja.

2. Jika nilai Chi-Square signifikan (p < 0.05), maka dilakukan modifikasi model pengukuran dengan cara membebaskan parameter berupa korelasi kesalahan pengukuran.

3. Jika telah diperoleh model yang fit, maka dilakukan analisis item dengan melihat apakah muatan faktor item tersebut signifikan dan mempunyai koefisien positif.

4. Setelah itu dilihat apakah ada item yang muatan faktornya negatif.

5. Apabila kesalahan pengukurannya berkorelasi terlalu banyak dengan kesalahan pengukuran pada item lain, maka item seperti ini pun dapat di drop karena bersifat multidimensi yang sangat kompleks.

6. Jika dilakukan CFA dengan model satu faktor tidak diperoleh model yang fit, maka dapat dilakukan analisis dengan menggunakan model dua faktor dan mengulang tahap dua sampai lima hingga didapatkan model yang paling fit.

Dalam GATB, ada empat faktor yang diteorikan untuk diukur. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini dilakukan empat kali uji validitas konstruk (untuk setiap subtes) yang masing-masing terdiri dari dua jenis analisis statistik, yaitu:
1. Menguji teori yang menyatakan bahwa semua item pada satu subtes bersifat unidimensional (mengukur apa yang hendak diukur)
2. Menguji tingkat signifikansi setiap butir soal dalam mengukur apa yang hendak diukur.

Selanjutnya, dalam GATB juga diteorikan bahwa keempat faktor (subtes) tersebut adalah mengukur satu hal (dimensi) yang sama yaitu kognitif (general intelligence). Hanya saja, disini berkenaan dengan hubungan antara subtes dan general intelligence.

Dengan kata lain, diteorikan bahwa item-item mengukur faktor tingkat satu (subtes) dan selanjutnya faktor-faktor tersebut (subtes) mengukur faktor tingkat dua yang lebih umum yaitu general intelligence.

Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu: prosedur penelitian melalui data sekunder pada tes masuk calon karyawan PT Semen Tonasa di PPM yang jumlahnya 3257 orang pada tahun 2009 di Jakarta. Sebelum memproses data, diadakan pengamatan terbatas dengan cara mewawancarai Divisi Asesmen SDM PPM Manajemen perihal kegiatan asesmen dan rekruitmen serta mengobservasi kegiatan asesmen yang dilakukan oleh mereka. Studi awal ini bertujuan untuk memperjelas permasalahan sebagai langkah awal dalam penelitian, dengan ini dapat diketahui:
1. Perumusan masalah.
2. Studi kepustakaan guna mendapatkan gambaran dan landasan teoritis yang tepat mengenai variabel penelitian.
3. Surat izin melakukan penelitian kepada pihak fakultas Psikologi dan meminta izin melakukan penelitian pada Divisi Asesmen SDM PPM Manajemen.
4. Pengujian terhadap data mentah yang sudah ada.

HASIL PENELITIAN
Sejalan dengan judul penelitian, uji validitas konstruk akan dilakukan per subtes untuk mengukur mengenai sejauh mana skor-skor hasil pengukuran item dengan instrumen sesuai atau tidak dengan teori yang mendasari penyusunan alat ukur tersebut. Pengujian validitas konstruk dilakukan melalui dua tahap:
1. Menguji hipotesis tentang model teori yang mengatakan bahwa item pada
masing-masing subtes mengukur satu faktor saja.

2. Menguji hipotesis apakah setiap butir item itu memberikan informasi yang signifikan mengenai aspek yang hendak diukur. Kedua tahapan ini dilakukan dengan menggunakan teknik Confirmatory Factor Analysis (CFA). Berikut ini dipaparkan hasil penelitian baik pada tingkat
subtes maupun pada tingkat general intelligence:

Kesimpulan
Pada bagian ini, akan dipaparkan kesimpulan dari pengujian hipotesis yang telah diuraikan pada bab empat. Hipotesis itu adalah:
1. Seluruh item dalam empat subtes GATB yang dijadikan penelitian adalah fit (sesuai) dengan model satu faktor, yang berarti semua item pada suatu subtes mengukur hanya satu kemampuan yang didefinisikan pada subtes tersebut yaitu computation, three dimensional space, vocabulary, dan arithmetic reasoning. Bahwa setiap item dalam masing-masing subtes adalah secara signifikan mengukur kemampuan pada subtes tersebut.

2. Empat subtes GATB adalah fit (sesuai) dengan model satu faktor, yaitu semua subtes mengukur satu faktor umum yang dalam hal ini adalah “Inteligensi”.

Hipotesis 1 diterima yang artinya bahwa semua subtes dalam GATB fit (sesuai) dengan model satu faktor, yaitu mengukur hanya satu kemampuan yang didefinisikan pada subtes tersebut. Dari empat subtes dalam GATB terdapat dua subtes yang untuk mencapai model fit hanya memerlukan modifikasi yang singkat, namun dua subtes lainnya untuk mencapai model fit harus dilakukan beberapa kali modifikasi yang lebih mendalam karena banyaknya item yang saling berkolerasi.

Hasil pengujian hipotesis 2 melalui analisis faktor dua tingkat (second order confirmatory factor analysis) menghasilkan pernyataan bahwa terdapat tiga dari empat subtes GATB yang signifikan dalam mengukur inteligensi umum, yaitu subtes computation, three dimensional space, dan vocabulary. Dalam analisis faktor dua tingkat ini item-item yang berkoefisien negatif dan tidak signifikan pada setiap subtes tidak digunakan atau di drop supaya menghasilkan perhitungan yang baik.

Setelah melakukan analisis faktor terhadap empat subtes dalam GATB yang mengukur inteligensi, menunjukkan bahwa alat tes GATB masih dapat dan layak digunakan sebagai salah satu alat tes inteligensi namun perlu dilakukan perbaikan dan pembaharuan terhadap item-item yang memiliki multidimensionalitas yang terlalu banyak.

Sumber:
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCgQFjAA&url=http%3A%2F%2Frepository.uinjkt.ac.id%2Fdspace%2Fbitstream%2F123456789%2F367%2F1%2FAFIFAH-FPS.PDF&ei=Gr23Upu_BIquiAfy74C4Cg&usg=AFQjCNEt_hvM3prrZm1TUjx2RqK2nho62w&sig2=PDpiAiwORgQfLqa4gfA3pA&bvm=bv.58187178,d.dGI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: